
| Category: | Books |
| Genre: | Reference |
| Author: | Herry Nurdi |
MOSSAD ( Ha-Mosad le-Modiāin u-le-Tafkidim Meyukhadim) atau The Institute for Intelligence and Special Operations yang dibahas di buku ini menarik untuk dicermati khususnya untuk saya sendiri mengingat bahwa buku ''Pertahanan Negara dan Postur TNI Ideal'' karya saya, kemudian menuai kritikan dari beberapa rekan rekan LSM yang menganggap terlalu berlebihan jika saya melatar belakangi penulisan dan Defence Forecasting serta Postur TNI Ideal tersebut dengan asumsi dasar bahwa TNI kita harus dibangun sehebat dan sekuat militer SAF yang dimiliki Singapura.
Buku ini menekankan hal itu pada satu sisi, dimana penulisnya memulai penjelasannya dengan sebuah proposal menarik dari Israel yang diajukan tahun 1960 untuk Singapura yang menurutnya merupakan sebuah hasil kajian mendalam tentang masa depan Singapura di percaturan politik Asia Tenggara kedepan dan sebenarnya bukan Singapura yang aktif meminta Israel untuk masuk tetapi Israel sendiri yang aktif berperan dan menawarkan diri agar bisa terlibat secara aktif di wilayah Asia Tenggara. Menurut penulisnya hal ini bukan suatu kebetulan, tetapi berdasarkan perencanaan matang karena Israel menempatkan diri bersama Singapura sama artinya dengan menjadi kekuatan Yahudi dan satelit Israel di Asia Tenggara.
Pada tanggal 24 Desember 1965, enam orang perwira Israel mendarat di Singapura dengan tugas yang berbeda. Tim perwira pertama bertugas membangun Kementerian Pertahanan Singapura, dipimpin oleh Kol. Ellazari. Tim kedua dipimpin oleh Yehuda Golan bertugas untuk menyiapkan pasukan bersenjata Singapura yang awalnya hanya terdiri dari 40 sampai 50 orang saja, tetapi hari ini pasukan tersebut telah menjelma menjadi kekuatan militer terbesar di Asia Tenggara bahkan mengalahkan Indonesia.
Di bulan Desember 1965, dengan menggunakan kata sandi ''The Mexicans'' perwira perwira Mossad tiba di Singapura, khusus untuk membantu Singapura yang baru saja melepaskan diri dari Malaysia. Kedatangan tim ini dirahasiakan dari sorotan publik, karena Singapura saat itu adalah negara muda dan dikelilingi oleh negara negara muslim seperti Indonesia, Brunei, Malaysia dan Thailand. Tokoh tokoh yang langsung terlibat dalam keputusan pembangunan militer Singapura saat itu adalah langsung Yitzhak Rabin selaku Kepala Staff Pemerintahan Isreal , Ezzer Weztmann dan juga Mayor Jenderal Rehavan Ze'evy yang kelak kemudian duduk menjadi Menteri.
Ze'evy sendiri yang kala itu terbang ke Singapura dengan nama samaran " Gandhi" berjanji akan membangun kekuatan militer Singapura sebagai kekuatan yang belum pernah ada di Asia Tenggara. Salah satu yang dibangun secara sangat serius, adalah adalah Buku Panduan Coklat atau Brown Book, yaitu buku panduan militer Singapura yang merupakan blue print dari Israel. Brown Book adalah buku panduan untuk perang langsung atau Combat, buku selanjutnya yang digarap adalah Blue Book yang mengatur segala macam strategy pertahanan dan gerakan intelejen.
Selain kekuatan militer darat, Israel juga merancang Strategy Combatting Water bagi Singapura. Kekuatan tempur laut ini disiapkan Israel bersama Singapura secara khusus untuk menghadapi negara negara maritim seperti Malaysia dan Indonesia. Menurut penulis, karenanya juga PM Lee Kuan Yew memberikan ijin secara resmi pada Israel Mei 1969 untuk membuka Kedutaan Besar Israel di Singapura.
Anggaran militer Singapura yang mencapai 4,4 milyar USD rupanya disadari juga oleh penulis, jauh sekali dibandingkan Indonesia. Padahal, Singapura juga sudah memiliki industri militernya sendiri sehingga tidak bergantung pada negara negara produsen senjata. Sama persis dengan Israel, Israel meski bergantung pada Barat tetapi dia juga mampu membangun industri senjatanya sendiri. Angkatan Bersenjata Singapura (SAF) seluruhnya berjumlah 60.500 pasukan , dimana jumlah itu sudah termasuk keseluruhan 39.800 wajib militer dengan masa dinas 24 s/d 30 bulan, tetapi jangan lupa, mereka juga memiliki pasukan cadangan berjumlah 213.800 orang, jadi itu artinya mencakup seluruh penduduk dan populasi Singapura. Maka artinya, Singapura telah berhasil benar benar mengaplikasikan Total Defence War.
Mereka memiliki wajib militer yang setiap saat jika dibutuhkan setiap warga negara bisa dimobilisasi dan dipersenjatai. Maka, setiap penduduk Singapura kesemuanya telah memeiliki Registrasi Militer berikut rank kepangkatannya, sehingga suatu waktu ketika terjadi ancaman atau serangan maka di masing masing daerah atau wilayah, para penduduk/wajib militer ini sudah dapat bergabung dengan markas markas militer yang telah ditentukan. Jadi, penduduk sipil ini sudah tahu dengan jelas apa pangkat mereka, berapa banyak anak buahnya, apa tugas mereka dan bahkan, senjata mereka sudah disetor di masing masing markas. Singapura benar benar menjalankan seperti konsep Israel bahwa setiap penduduk dewasa adalah tentara sipil yang militer. (Menarik kan ? jika dibandingkan dengan Indonesia yang sampai saat ini masih saja meributkan masalah RUU Komponen Dukungan dan Komponen Cadangan).
Angkatan Darat Singapura terdiri dari 50.000 pasukan, Angkatan Laut 4.500 dan Angkatan Udara 6.000. Menarik, karena Singapura memiliki Force Abroad, yaitu pasukan pasukan yang ditempatkan di luar negeri, mereka ditempatkan bukan untuk misi-misi internasional tetapi mereka adalah pasukan SAFsendiri yang kebanyakan adalah anggota RAF (Royal Air Force) Singapura. Mereka ditempatkan di Perancis, Australia, Brunei, Afrika Selatan, Taiwan, Thailand dan Amerika Serikat dimana juga terdiri dari pesawat tempur, pesawat pengintai tanpa awak sampai dengan pesawat pengisi bahan bakar yang kebanyakan diparkir di AS. Jadi, andaikata Indonesia nekat menyerang Singapura mereka bisa melakukan serangan balik yang jauh lebih kuat dan effektif daripada yang dilakukan Indonesia karena pesawat mereka bisa sampai di wilayah Indonesia kurang lebih 30 menit saja.
Bahkan saking unggulnya PM Lee Kuan Yew pernah menyampaikan bahwa militer Singapura lebih efektif daripada militer AS, karena diperlukan 3000 sampai 6000 ahli militer AS ke Vietnam Selatan untuk membantu Presiden Ngo Dinh Diem sementara Israel hanya cukup mengirimkan 18 orang perwira untuk membuat dan mebangun SAF yang begitu hebat hari ini.
Apalagi sejak Singapura menandatangani kesepakatan satelit mata mata dengan Israel tahun 2000, maka menurut penulis bisa jadi tidak sejengkalpun area di Asia Tenggara lolos dari perhatian Singapura dan Israel. Tahun 2000 juga Singapura dengan divalitisasi Amerika menandatangani kontrak kerjasama dalam bidang satelit mata mata bernilai 1 milyar USD. Atas nasehat Israel pula Singapura memiliki dan membangun minat kuat dalam perdagangan dan kerjasama yang dibentuknya dalam 4 prinsip utama; Komando, Kontrol, Komunikasi dan Intelejen. Lewat dokrtin ini kiranya juga menurut penulisnya Singapura tidak melepaskan kesempatan emas membeli Indosat dari Indonesia.
Menarik bukan ?
Catt :
Sayangnya buku ini tidak mencantumkan Daftar Pustaka ataupun catatan kaki yang sebenarnya penting, sehingga ratingnya yang mungkin saya ingin berikan 5 bintang, hanya menjadi 3 bintang saja.
